Showing posts with label Made in Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Made in Indonesia. Show all posts

Thursday

Military News: PT LEN Equips Indonesian Navy MPA With Surveillance System


AFB - PT Len equips Indonesian Navy MPA with surveillance system. State-owned defence electronics company PT Len has equipped an Indonesian Navy (Tantara Nasional Indonesia - Angkatan Laut: TNI-AL) maritime patrol aircraft (MPA) with its Retimax 2000 surveillance and reconnaissance system.

The system, consisting of a mission console, a cockpit display console and gimbal with three different sensors, was mounted on a TNI-AL NC-212 MPA in December. It has undergone several successful tests and is now fully operational, the company told IHS Jane's at the DSA 2014 exhibition.

Friday

Indonesia Siap Bangun Alutsista Strategis Buatan Dalam Negeri


AFB - Pemerintah Republik Indonesia berusaha keras guna mempercepat peningkatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Strategis   buat keperluan pertahanan Indonesia.


Kementerian Pertahanan telah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) buat menggenjot produksi alutsista mutakhir buat mengganti mesin tempur uzur.


Menurut staf ahli kelembagaan bidang kerjasama Kementerian Pertahanan, Zilmi Karim, pemerintah telah membidik sepuluh pengadaan alutsista dari berbagai jenis. Antara lain kapal selam, program pesawat tempur KXF-EXF bekerjasama dengan Korea Selatan, tank kelas menengah, panser amfibi, propelan atau bahan bakar roket dan rudal, radar, amunisi kaliber besar, satelit pertahanan, dan pesawat tempur tanpa awak (unmanned combat air vehicle-UCAV) atau kerap disebut drone.

Saturday

Indonesian Firm Wins Bidding for Supply of 2 Navy Vessels


AFB - An Indonesian company has won the bidding for the supply of two new vessels for the Navy.

Sources told The STAR a notice of award for the P4-billion acquisition of two strategic sealift vessels was issued to PT PAL Indonesia (Persero) late last month.

This was confirmed yesterday by Defense Undersecretary Fernando Manalo, who oversees the military’s upgrade efforts.

“Yes, I think there is a NOA (notice of award) already,” Manalo said when asked whether PT PAL had won the bidding for the project.

PT PAL offered to supply the two ships for $86,980,000 or about P3.864 billion, well within the approved budget of P4 billion.

Monday

Filipina Pesan Pesawat Militer NC212i Buatan PT.Dirgantara Indonesia


AFB - Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen pesawat, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), berhasil memenangkan tender pengadaan pesawat untuk militer Filipina.

Perusahaan milik negara yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat, ini siap menjual 2 unit pesawat tipe NC212i dengan nilai US$ 18 juta atau setara 820 juta peso.

"Kita menang 2 unit NC212i di proyek Light Lift Aircraft nilai budget US$ 18 juta," kata Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh dalam keterangannya.

Tender pengadaan pesawat ini diadakan oleh Kementerian Pertahanan Filipina untuk keperluan Angkatan Udara.

Thursday

Kisah Nelson Mandela dan Batik


AFB - Filosofi pembuatan batik yang memerlukan kesabaran dan keharmonisan merupakan cermin kuat dari kepribadian Nelson Mandela. Nelson Mandela dikenal sebagai tokoh yang gemar mengenakan batik.

Peraih Nobel Perdamaian 1993 ini memakai kemeja bermotif batik pada banyak acara resmi, termasuk pada acara penutupan Piala Dunia 2010 yang digelar di negara kelahiran dan tanah penjuangannya, Afrika Selatan.

Saturday

Senapan Serbu "SS-2" Buatan PT.PINDAD di Minati Negara Lain


AFB - Setelah sebelumnya senapan SS-1 sukses dipakai beberapa negara dikawasan Afrika, Amerika Selatan dan Asia tenggara, kini PT. Pindad mulai mempromosikan Senapan SS-2.


Sejumlah negara diantaranya Malaysia, Brunei Darussalam, Uganda, Timor Leste, Kongo, Arab Saudi, Iran, Kamboja, Laos serta Irak tertarik memborong senapan SS2 buatan Indonesia.

Universitas Indonesia(UI) Kembangkan Kapal Tanpa Awak


AFB - Universitas Indonesia (UI) menjajaki kerja sama pembuatan prototipe kapal tanpa awak (USV) untuk untuk menolong korban manusia sebagai upaya mendukung operasi SAR dengan Basarnas.

"Kapal yang diberi nama dengan Makara-03 adalah sebuah USV yang dikembangkan dari Makara-01 dan Makara-02, yaitu USV sebelumnya," kata Humas Fakultas Tehmik UI, Tika Anggraeni, di kampus UI Depok.

Ia mengatakan, Makara-03 didesain khusus untuk dapat bermanuver dan berotasi dengan cepat selain itu, desain "planning-hull" yang mengadopsi teknologi "axe bow" diaplikasikan pada makara-03 guna mendukung kemampuannya untuk melaksanakan operasi SAR.

Kapal tanpa awak ini didesain oleh Mahasiswa UI yang terdiri dari mahasiswa Teknik Perkapalan (M Hary Mukti/2009, Aditya Meisar/2009), Teknik Mesin(Riki/2012), Teknik Elektro (Novika Ginanto/2008, Uli/2010, Irvan JP Elliika/2008) yang dibimbing oleh Dosen Departemen Teknik Mesin UI Dr Ir Sunaryo MSc.

Tuesday

“Indonesian People Crazy!”

AFB - Siapa pun yang mengaku orang Indonesia, bila mendengar kalimat dalam judul tersebut di atas apalagi dilontarkan oleh orang “bule” tentu akan marah, tersinggung dan buntut-nya bisa jadi si bule yang mengucapkan kalimat itu akan “dilabrak” habis-habisan, tanpa kompromi sebagai bentuk berontak-nya “nasionalisme” yang melekat pada jiwanya. Akan tetapi aku sebagai “Indonesia tulen” tidak demikian menanggapinya. 

Bukan karena aku sudah tak peduli lagi dengan apa itu yang namanya nasionalisme, bukan pula karena aku “takut” karena yang mengucapkan kalimat itu bule bertubuh tinggi besar. Bukan itu! Aku tidak marah karena itu hanyalah sebuah “majas”, sebuah gaya bahasa, sebuah majas “interjeksi preterito”, sebuah ungkapan hati seseorang berupa penegasan tentang sesuatu dengan menyembunyikan maksud yang sebenarnya. 

Aku pun tidak marah karena kalimat lanjutannya justru menambah kebanggaanku terhadap Indonesia, ” Wow… Indonesian people crasy! ….. wonderfuf, fantastic ….. …. amazing ……I really appreciate how Indonesian guess created it”. Nah, dengan melihat kalimat lengkapnya si bule ini, semoga anda akan “mengampuni” aku yang tidak marah dengan kata-kata si bule tadi ” Indonesian people crazy!”.

Sebaris kalimat ungkapan tersebut aku rekam dalam memori ingatanku ketika suatu sore, di hari Minggu, di akhir bulan September 2013 lalu, aku bertemu dengan seorang kenalanku, seorang Officer dari sebuah negara di kawasan Eropa yang kini sama-sama sedang menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon. 

Aku kenal dengan sang Officer beberapa bulan sebelumnya ketika mengikuti program Induction Training yang dilaksanakan Unifil (United Interim Force In Lebanon). Aku bertemu dengannya sore itu ketika aku baru keluar dari pagar markasku di Soedirman Camp, jalan kaki, dengan pakaian olah raga lengkap mau cari keringat, bermain bulutangkis di Unifil Rub Hall seperti kebiasaanku di waktu senggang atau hari libur.

Kapal Selam Terbang Pertama Buatan Indonesia

AFB - Tidak lama lagi Indonesia  kembali akan unjuk kekuatan dalam bidang teknologi militer salah satunya yang akan di ujicoba pada tahun 2013 adalah kapal Militer Crocodile Hydrofoil dengan sandi Buaya Terbang buatan Seorang Dosen Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

Kapal "buaya" ini sebenarnya kapal militer yang terinspirasi dari pergerakan unik hewan reptil zaman purba tersebut. Dr Ir Wisnu Wardhana SE Msc, dosen di Jurusan Teknik Kelautan ITS, menamai kapal rancangannya itu dengan Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil (KPC-H).

Kapal buaya merupakan kapal non permukaan pertama yang dirancang khusus menggabungkan antara teknologi kapal selam dengan teknologi kapal cepat hydrofoil permukaan, karena desainnya yang unik dan pertama di dunia, kapal ini mampu bergerak dengan kecepatan tinggi dan memiliki kemampuan kamuflase layaknya siluman guna memenuhi tantangan teknologi militer masa depan.

Tugas pokok dari "Buaya" ini nantinya,  diklaim mampu menyamar, mencegat, menyusup, melepaskan pasukan komando dengan hening merekam atau mengirim data kondisi awan serta spionase. Tak hanya itu, kapal buaya juga saya rancang untuk bisa menebar ranjau, serta menyerang atau menghindar dengan cepat. 

Wednesday

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) Serahkan Pesawat CN235 MPA Pesanan TNI AL

AFB - TNI Angkatan Laut resmi mengoperasikan pesawat CN235 versi MPA atau patroli maritim setelah diserahterimakan dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang berlangsung di Hanggar PT DI Kota Bandung, Rabu.Serah terima pesawat CN235 MPA pertama di lingkungan TNI AL tersebut dilakukan dari Dirut PT DI Budi Santoso kepada Kabaranahan Kementerian Pertahanan RI Laksamana Muda TNI Rachmat Lubis.
Penyerahan pesawat itu dilakukan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, KSAL TNI-AL Laksamana TNI Dr Marsetio Danpusenerbal Laksamana TNI I Nyoman Nesa, Aslog Panglima TNI Mayjen TNI Joko Sriwidodo dan Aslog TNI AL Laksamana Muda TNI Sri Handayanto.

"Pesawat CN 235 MPA yang diserahkan ini merupakan yang pertama dari tiga unit pesanan pesanan Kementerian pertahanan yang kontrak jual belinya pada Desember 2009. Pesawat ini akan dioperasikan oleh Puspenerbal yang berpangkalan di Lanud AL Juanda Surabaya," kata Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro.
Penempatan pesawat itu, kata Purnomo berdasarkan posisi strategis untuk mengoperasikan pesawat itu untuk bisa berfungsi dan bertugas intensif dan strategis dalam melakukan pengawasan perairan Indonesia.
Pesawat itu merupakan CN235 MPA pertama yang dioperasikan oleh TNI AL untuk mengawasi dan melindungi laut Indonesia.

Pesawat R80 (Neo N-250) Terbang Perdana Tahun 2016

AFB -  NAM Air, Maskapai Group Sriwijaya Air berencana memakai pesawat R80 (Neo N-250) yang saat ini dikembangkan PT Regio Aviasi Industri. Menurut Direktur Utama Sriwijaya Air Chandra Lie, pihaknya yakin dengan pesawat R80 yang merupakan produk dalam negeri dan ingin menjadikan NAM sebagai maskapai pertama yang menggunakannya.


“Pada saat launching NAM Air besok, kita juga akan menandatangani kontrak pemesanan 50 pesawat R80 plus 50 pesawat lagi sebagai opsi tambahan,” ujar Chandra.


Selain berkomitmen mendukung produksi dalam negeri, Sriwijaya Air juga berkomitmen untuk melatih sendiri para pilot dan kru kabinnya dengan cara hampir semua lulusan NAM Flying School langsung diserap oleh Sriwijaya Air.


“Kami butuh pilot 28 set per tahun, karena target kami tiap tahun tambah tujuh pesawat, satu pesawat perlu 4 set pilot. Belum lagi untuk NAM Air, kami butuh lebih banyak lagi pilot karena target kami 10 pesawat per tahun,” ujarnya.

PT Regio Aviasi Industri (RAI) menggandeng lima maskapai nasional untuk mengembangkan pesawat komersial R80. Kelima maskapai itu antara lain Merpati, Citilink, Wingsair, Sky Aviation dan Kal Star.

Saturday

PT Dirgantara Indonesia Kembangkan Helikopter Serang Sekelas Apache


AFB - Kementerian Pertahanan akan mendorong PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk mengembangkan helikopter serang, menyusul rencana pemerintah Indonesia membeli delapan unit helikopter serang Apache AH-64 dari Amerika Serikat untuk TNI Angkatan Darat. Yang dibutuhkan satu skuadron helikopter serang atau sebanyak 16 unit," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, yang ditemui sesaat setelah peluncuran buku yang ditulis anggota Komisi I DPR Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati berjudul "Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan" di Jakarta.


Ia lantas menjelaskan,"Kalau kita beli delapan unit helikopter Apache, berarti baru setengah skuadron. Mungkin ada kombinasi, seperti halnya pesawat tanpa awak (UAV), setengah skuadron-nya merupakan buatan dalam negeri." Pengembangan helikopter serang yang dibangun oleh PT DI, kata dia, diharapkan spesifikasi dan kemampuannya tak jauh berbeda dengan helikopter Apache. "Mungkin spesifikasi-nya masih di bawah Apache, tetapi kemampuannya tak begitu jauh," kata Menteri pertahanan.

Tuesday

LIPI Luncurkan Telepon Pintar "Bandros"



AFB - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia meluncurkan ponsel pintar Bandros atau Bandung Raya Operating System sebagai salah satu hasil penelitian unggulan.

"Ponsel ini dipakai untuk kegunaan khusus, salah satunya bisa diatur sebagai telepon antisadap," ujar Kepala Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) LT Handoko di Puspiptek Tangerang Selatan.

Sebagai ponsel pintar yang dapat diatur menjadi antisadap, maka ponsel ini hanya dipakai untuk kegunaaan khusus terutama untuk segmen pemerintahan.

Handoko menjelaskan bahwa LIPI membuat ponsel pintar ini sesuai dengan pesanan dan kebutuhan serta fungsi, dan ditujukan untuk pemerintah serta korporat.

Lebih lanjut Handoko memaparkan bahwa para peneliti LIPI mengembangkan piranti lunak Bandros pada awalnya ditujukan untuk pasien rumah sakit dan pemberian informasi perihal sistem peringatan dini.

32 Anoa "Rimau" Pesanan Malaysia

AFB - PT Pindad (Persero) semakin sibuk menerima tawaran atau pesanan mobil tempur panser jenis Anoa, salah satunya dari Malaysia. Negeri Jiran ini berharap bisa segera memboyong 32 unit seharga miliaran rupiah itu.

Panser Anoa merupakan salah satu produk kendaraan berlapis baja unggulan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbasis di Bandung. Pindad sendiri merupakan perusahaan manufaktur yang menyediakan berbagai produk mesin seperti generator, senjata, kendaraan tempur, amunisi untuk militer.

Menurut Direktur Utama Pindad, Adik Avianto Soedarsono, proses kesepakatan order dengan Malaysia telah melewati tahapan mulai dari konsep, pengiriman delegasi Malaysia ke Indonesia, uji coba, sertifikasi hingga tahapan negosiasi.

"Jadi tinggal satu proses lagi, yaitu proses administrasi. Kami tinggal menunggu legal binding, dan kontrak penawaran tanpa syarat (unconditional letter of offer) dari pihak Malaysia," ungkap dia saat dihubungi.
Lebih jauh Adik menjelaskan, pihaknya tidak bisa memproduksi Panser Anoa pesanan Malaysia bila proses terakhir itu belum terlaksana. Pasalnya ini menyangkut prosedur atau perizinan dalam pembelian perlengkapan militer antar negara.

"Malaysia memang minta 32 unit Panser Anoa tersebut bisa dikirim tahun ini. Tapi kami tidak mau kalau proses administrasi belum dipenuhi, sebab produksi Panser paling cuma perlu waktu 2 bulan. Yang lama itu mendatangkan onderdil, pelek dengan waktu 8 bulan," papar dia.

Saturday

Mengenal “N-250" Pesawat Pertama Buatan Indonesia



AFB - Pesawat N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia.


Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. berbeda dengan pesawat sebelumnya seperti CN-235 dimana kode CN menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, yang berarti pesawat itu dikerjakan secara patungan antara perusahaan CASA Spanyol dengan IPTN.

Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. 

Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkan nya Sistem fly-by wire.

Wednesday

Pesawat Made in Bandung di Minati Negara Asean



AFB - Pesawat terbang produksi PT Dirgantara Indonesia (Persero) ternyata dibutuhkan dan diincar oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara. 

Pasca melakukan ASEAN Roadshow dari tanggal 22-31 Mei 2013 ke 6 negara Asia Tenggara, pesawat terbang tipe CN235, NC212 dan CN295 versi sipil dan militer yang diproduksi di Bandung Jawa Barat tersebut masuk daftar pesawat yang telah dan akan digunakan oleh beberapa negara.

Direktur Niaga dan Restrukturisasi Dirgantara Indonesia Budiman Saleh menjelaskan, saat kunjungan ke Filipina, terdapat kebutuhan pengadaan program pesawat berbadan kecil dan sedang seperti Light Lift Aircraft NC212/NC212i military transport dan rencana pengadaan program Long Range Patrol Aircraft CN235 Anti Submarine Warfare (ASW). Filipina juga melirik pesawat versi terbaru Dirgantara Indonesia yakni CN 295.

"Sebagai catatan, PTDI sudah memiliki pengalaman memproduksi 20 unit Maritime Surveillance Aircraft (MSA), Maritime Patrol Aircraft (MPA) dan Anti Submarine Warfae (ASW) dengan menggunakan platform CN235. Pengadaan kedua jenis pesawat di atas sudah dipilih oleh user untuk menggunakan skema G2G antar pemerintah Pilipina dan Indonesia. Rencana pengadaan program Medium Lift Aircraft CN295. Diharapkan ketiga program tersebut dapat dilaksanakan secepatnya," ucap Budiman.

Monday

Senegal Berminat Membeli Pesawat CN-235 220 Buatan Bandung


AFB - Pemerintah Senegal berminat membeli dua pesawat CN-235 versi 220 produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Pesawat itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan VIP dan transportasi udara.

"Hal itu ditegaskan Menteri Angkatan Bersenjata Senegal Augustine Tine saat bertemu delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) antara DPR dan Parlemen Senegal di Kantor Kementerian Angkatan Bersenjata Senegal," kata Pimpinan Delegasi DPR Tantowi Yahya.

Pemerintah Senegal juga ingin memulai kerja sama di bidang pertahanan. Melalui pelatihan bagi perwira militer dan polisi. Selain juga upaya penguatan kerja sama di bidang politik terkait pemilu dan peran parlemen.

Tuesday

"KOMODO" Latest 4x4 Tactical Vehicle Production PINDAD



AFB - Komodo. That was a name that given to PT Pindad latest 4×4 tactical vehicle. The President of Republic of Indonesia officially named this vehicle to the endemic animal from Indonesia at Indo Defence Expo and Forum, last November 2012. The President had a hope that the tactical vehicle could be strong and tough at any combat field and could bring the glory for Indonesia.
If we looked back to the past, on October 26th 2011, President visited weaponry system exhibition at PT Indonesian Aerospace. He gave a challenge to Pindad Product Development Team to make a 4×4 tactical vehicle.
The Special Vehicle Division technicians agreed and then the journey to create the tactical vehicle was officially started.
The project was started at November 2011. The Product Development Team from Special Vehicle Division was busy designing the vehicle. They did the benchmarking by observing various design of similar tactical vehicles from many countries, such as Oskkosh which used by US Army, AMPV from Germany, Aravis and Sherpa from France, and many others. They also did the Reverse Engine process in order to know what kind of machine that suitable for this kind of vehicle. The designing process was ended at January 2012 with an outcome one design which chosen by the management and continued by the making of this vehicle prototype.

The decision to make this kind of vehicle wasn’t without a solid reason. The making process was based on the direction of combat vehicle evolution at the future. The direction of combat vehicle changing will lead to size shrinkage of the vehicle. The combat vehicle won’t prioritize the gigantic size, but the smaller vehicle yet managed to move swiftly and survived at the combat field.
Even though the size wasn’t as big as the other combat vehicle like Anoa Panser, the tactical vehicle still could manage to stay strong at combat field because the production process consistently paid attention to three things that should be noted at combat vehicle making process. First is mobility, the movement capability to avoid the enemy attack and also the capability to move at a difficult field. Second is survivability, the capability to survive from enemy attack by using the bulletproof body. And last is fire power, the power to attack the enemy, by shooting back at them.
Some of Komodo Variants
The outcome of the Product Development team of Special Vehicle Division designing process, was the good response from the defence industry circles. Since the vehicle prototype was joined in exhibitions, many parties were interested to the physical condition of the vehicle which is not that big, but still impressed strong and dashing. Even more, PT Pindad also gave an authority to the client to decide what kind of design which would be applied to Komodo, based on its function.
After that, an offering and contract agreements were made. Until this time, some parties recorded had ordered Komodo. BRIMOB (Paramilitary Police Force) already ordered two units of Komodo which had customized into a “Jungle Warfare” tactical vehicle. This vehicle was especially designed for a city movement and chasing until jungle area.
Jungle Walfare Tactical Vehicle
Different from BRIMOB, KOPASSUS (Indonesian Army Special Force) already ordered Komodo which had customized into a “Battering Ram” vehicle. KOPASSUS has a unit which called Gultor (Penanggulangan Teror, Terror Countermeasures). This unit has a task to overcome all kind of terror, such as kidnapping, bomb threat, and many others. Hence, they need a vehicle which not only has a function as the movement equipment, but also as terror countermeasures tools, one of them is to destroy a building.
Battering Ram tactical vehicle
The establishment of Law number 16 year 2012, which require that international cooperation should use a local content, also gave an advantage to PT Pindad and this Komodo project. Until now recorded some of potential buyers which came from international client and stated their interest to Komodo and still on cooperation assessment process.
The Komodo project was estimated to have a bright future. Not only because the evolution of combat vehicle size was becoming smaller, but also this kind of vehicle will be the wanted vehicle which many peoples would looked for. Plus, the Ministry of Defence is busy to fill the Minimum Essential Force for the weaponry system and PT Pindad always be the first choice for the land dimension sector fulfillment. Hopefully, Komodo could be another milestone on PT Pindad history. (Anggia Susada Mantarlia)
Komodo Spesification
General
Configuration4 x 4
Crew5 persons
Dimension (LxWxH)± (5,560 x 2,250 x 2,150)
Wheel Base± 3,600 mm
Wheel Track± 1,900
Empty Weight±5,800 kg
Combat Weight± 7,300 kg
Power to Weight Ratio± 20.4 Hp/ton
Angle of Approach/Departure45o/45o
Ground clearance± 440 mm
Performance
Max Speed (flat road)± 80 km/h
(offroad)± 50 km/h
(highway)± 100 km/h
Max. Gradient60% (31”)
Max. Side Slope30% (17”)
Fording Depth± 0.75 m
Vertical Obstacle± 0.40 m
Trench± 0.50 m
Turning Radius≥ 7 m
Fuel Tank± 200 liter
Maximum Range± 450 km
Technical
EngineDiesel Engine
4 Stroke Inline; 6 Cylinders
215 PS at 2500 rpm
Turbo Charger Inter Cooler
TransmissionManually; (optional), 6 forward/1 reverse
BodyMonocoque
Body Protection (optional)Bullet Proof Steel; Bullet Proof Glass
SuspensionRight Axle; Front (Bushing Arm with Coil Spring), Rear (Trailing Arm with Coil Spring, Stabilizer Bar, Telescopic Shock Absorber.
Steering SystemPower Steering
Wheel & Tyre12.5 R 20
Brake SystemHydropneumatic Control Disc Brake All Wheel
Electrical; (Battery)2 x 12V – 100 AH
(Alternator)24V / 100 Amp



BUMN.

Friday

Pesawat Tempur Rancangan PT DIRGANTARA INDONESIA


AFB - Diam-diam, Indonesia Rancang Pesawat Tempur Sejak 2010 Indonesia terus berusaha meningkatkan persenjataan militernya, termasuk juga membangun pesawat tempur sendiri. Saat ini Indonesia masih mengandalkan pembelian pesawat tempur dari Rusia yakni Sukhoi 30.

Vice President Corporate Communication PT Dirgantara Indonesia (PT DI) Sonni Ibrahim mengatakan, sejak 2010 lalu Indonesia sudah mulai merancang pesawat tempur sendiri.

"Indonesia saat ini sudah memulai proses perancangan pesawat tempur. Proyek ini sudah dimulai sejak 2010 lalu," kata Sonni ketika ditemui detikFinance diacara Airshow The 12th Langkawi Internasional Maritime and Exhibition, Malaysia.

Proyek ini merupakan proyek negara dan PT DI sebagai BUMN produsen pesawat ikut berpartisipasi di dalamnya.

"Saat ini prosesnya sudah menyelesaikan tahap I yakni tahap teknologi dan development. Tahap ini dimulai sejak 2010 lalu dan Desember 2012 sudah selesai. Saat ini kita masuk dalam tahap ke II yakni Tahap Go no Go," ungkap Sonni.

Seperti diketahui, Indonesia terus meningkatkan peralatan militernya, sejak 2012-2014 setidaknya akan ada 60 pesawat tempur berbagai jenis dimiliki Indonesia. Indonesia juga saat ini mempunyai beberapa pesawat tempur mulai dari F5, F16, Sukhoi, Su30, dan lainnya.

RI Butuh 11 Tahun Untuk Rancang Pesawat Tempur Sendiri

Indonesia diam-diam tengah merancang pesawat tempur sendiri dengan melibatkan BUMN produsen pesawat PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sejak 2010. Butuh waktu 11 tahun untuk menyempurnakan rancangan pesawat tempur ini.

Adapun pesawat tempur yang sedang dirancang Indonesia bernama Indonesia Fighter X (IFX). "Namanya IFX yakni Indonesia Fighter X. Jadi X itu nanti nama seri tersendiri," kata Vice President Corporate Communication PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Sonni Ibrahim kepada detikFinance ketika ditemui di acara Airshow The 12th Langkawi International Maritime & Exhibition, Malaysia.

"Proyek ini dimulai sejak 2010, sekarang sedang memasuki tahap ke II yakni tahap Go no Go," ucapnya.

Setidaknya untuk menyelesaikan proyek IFX ini harus melalui 4 tahapan.

"Tahapan I Teknologi and Development, tahap ini sudah selesai pada Desember 2012, lalu Tahap II Go no Go saat ini kita ditahap ini, Tahap III yakni tahap Enginering Development, Prototipe dan Sertifikasi dan tahap terakhir tahap IV produksi, semuanya ini memakan waktu 11 tahun, dan Indonesia akan punya pesawat tempur buatan sendiri," ungkapnya lagi.

Saat ini peran PT DI bersama TNI dan pemerintah adalah ikut mendesain IFX. "Kami (PT DI) sudah mulai kerja dengan memasuki tahap kerja detil," tandasnya.

Detik.