Showing posts with label TNI AD. Show all posts
Showing posts with label TNI AD. Show all posts

Monday

Lagi, Lagi, Dan Lagi ; TNI AD Juara Umum AASAM 2014 di Australia


AFB ~ Lagi, lagi dan lagi, Tim petembak TNI Angkatan Darat(TNI AD) berhasil mengukir prestasi membanggakan sebagai juara umum pada kejuaraan menembak tingkat internasional Australian Army Skill at Arms Meeting   (AASAM) 2014, dengan perolehan medali 32 emas, 15 medali perak dan 20 medali perunggu, yang dilaksanakan di Australia pada tanggal 5 hingga 16 Mei 2014.

Sedangkan menempati urutan ke 2 tim petembak tuan rumah Australia dengan perolehan medali 6 emas, 15  perak dan 20 perunggu dan diurutan ketiga ditempati oleh tim petembak dari tentara Brunai Darusallam dengan perolehan medali 5 emas, 4 perak dan 1 Perunggu.

Gelar sebagai juara umum yang diraih TNI AD ini merupakan yang ke 7 kalinya diperoleh secara berturut-turut dari tahun 2008 hingga 2014, pada pelaksanaan tahun 2014 kali ini diikuti oleh 16 tim petembak dari tentara Negara di kawasan Asia Pasifik yaitu Indonesia, Australia, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jepang, Fhilipina, Thailand,  Timor Leste, Papua Nugini, Singapura, Brunai Darussalam, New Zealand, New Caledonia, Papua Nugini dan Tonga.

Friday

TNI AD Juara Umum Lomba Tembak Se ASEAN 2013


AFB - Prestasi membanggakan ditorehkan TNI AD. Dalam gelaran olahraga menembak tingkat ASEAN, mereka menjadi juara umum dan memperoleh separuh lebih medali emas yang diperebutkan. Kebanggaan atas kemenangan ini disampaikan langsung oleh Presiden SBY dalam akun Twitter-nya.

"Dari 44 Medali Emas, Indonesia mendapatkan 28 medali. Dr 15 Trofi, kita dapat 8. Sekali lagi, selamat atas prestasi yg luar biasa ini," tulis SBY dalam akun Twitter-nya.

SBY bangga dengan prestasi TNI ini. Ini menunjukkan tentara Indonesia tidak kalah dengan tentara mana pun di dunia.

"Mari kita buktikan bahwa TNI kita tidak kalah dg tentara manapun. Teruslah membangun diri utk menjadi tentara yg profesional & modern," tulis SBY lagi.

Monday

Welcome Leopard Indonesia

AFB - Dalam kemilau senja dan angin yang bertiup sepoi-sepoi, kapal barang Isolde merapat dengan panduan kapal pilot. Sesuai jadwal, kapal merapat di salah satu dermaga pelabuhan Tanjung Priok.
Matahari telah kembali ke peraduan-nya saat ramp utama Isolde turun perlahan, menampakkan isinya. Bak hewan buas yang ter-kungkung lama, aura ganas terpancar dari sosok Leopard 2A4 dan Marder 1A3 yang ter-lilit rantai ke lantai dek kapal. 

Sungguh pemandangan yang mengagumkan, melihat untuk pertama kalinya, dalam senja tanggal 21 September tersebut, TNI AD mengukir sejarah dengan kedatangan Main Battle Tank pertama dalam jajaran aktif Kavaleri.
Dengan cekatan, para teknisi melepas ikatan rantai pengaman satu-persatu. Hanya dalam satu sentakan, mesin Leopard 2A4 menyala, suara mesin nya yang gahar terdengar bak auman merdu. Dengan mudah, Leo 2A4 bermanuver dengan gerak pivot, memutar ke kanan dan bergerak menuruni ramp, langsung menuju ke truk flatbed yang menunggu. 

Tuesday

Indonesia Beli Helikopter Apache AH-64 dari Amerika Serikat

AFB - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah menandatangani kesepakatan pembelian 8 Helikopter serang jenis Apache AH-64 dari Amerika Serikat. Hal itu terungkap dalam kunjungan Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel, yang berkunjung ke Indonesia Senin 26 Agustus 2013. Hagel tiba di tanah air  usai mengunjungi Malaysia.

Dalam keterangan pers di Gedung Kementerian Pertahanan, Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro, mengatakan akan membentuk satu skuadron helikopter Apache bagi TNI Angkatan Darat. Menteri pertahanan memutuskan membeli Helikopter tersebut dalam rangka memodernisasi alutsista TNI yang sudah usang. 

Hampir 20 tahun lebih, kata Poernomo, Indonesia belum membeli peralatan militer baru. "Kami membelinya sebagai bagian dari upaya modernisasi peralatan perang militer Indonesia. Kami akui bahwa kualitas militer Indonesia masih rendah, oleh sebab itu akan terus diperbaiki," kata Poernomo.

Mengapa baru membeli Helikopter Serang Apache AH-64 saat ini, mantan Menteri ESDM itu beralasan karena ketiadaan biaya saat krisis ekonomi masih menghantam Indonesia. Sehingga pemerintah memfokuskan pada pemulihan ekonomi ketimbang modernisasi peralatan militer. "Nah, kini setelah perekonomian kami membaik, pemerintah mulai menganggarkan dana," kata Poernomo.
Namun, dia mengakui proses modernisasi peralatan militer Indonesia tidak dapat dilakukan secara cepat. Butuh proses dan harus di eksekusi secara bertahap.

Monday

TNI Beli Rudal Anti Tank Buatan Amerika

AFB - Tentara Nasional Indonesia (TNI) memborong peluncur rudal anti-tank (ATGM) canggih buatan Amerika Serikat. Rudal ini mampu mengunci sasaran dan mengikuti kemana-pun target berjalan dengan daya ledak yang luar biasa.

Anti tank baru bernama Javelin ini dipamerkan dan diperagakan penggunaannya usai pembukaan latihan gabungan Garuda Shield TNI Angkatan Darat dengan Tentara AS di Pasifik (USARPAC).

Letnan Satu TNI Bonny Octavian yang memperagakan penggunaan Javelin mengatakan, jarak tembak rudal ini mencapai 2,5 kilometer. Javelin dilengkapi dengan pelacak canggih yang mampu mengunci dan menembak sasaran yang bergerak. "Waktu reload rudal ini cukup cepat, yaitu 40 detik saja," kata Bonny.
Bonny mengatakan, TNI telah memesan 25 alat pembidik dan 189 rudal anti tank Javelin buatan perusahaan Raytheon dan Lockheed Martin ini. Namun senjata ini masih dalam tahap produksi dan belum dikirim.

Selain canggih, alat ini sangat ringan dan dapat ditempatkan di bahu penyerang. Menurut laman Inetres.com, rudal Javelin berbobot 11,8 kilogram sementara alat pembidik dan peluncur hanya 6,4 kilogram. "Senjata ini selain canggih juga simpel dan ringan," kata Bonny.

Senjata ini telah dikembangkan sejak tahun 1998 oleh perusahaan Raytheon dan Lockheed Martin dengan nama proyek Javelin Joint Venture. Produksinya sendiri dimulai tahun 1994 dan dikirimkan ke barak militer di Fort Benning, Georgia pada tahun 1996.

Prestasi Senapan Pindad TNI AD Pada Kejuaraan AASAM di Australia

AFB - Beberapa tahun belakangan hingga sekarang, nama militer Indonesia menjadi harum atas prestasi yang dilakukan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dalam mengikuti lomba tembak. 

Lomba tembak yang rutin diikuti oleh TNI AD adalah Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).

Lomba tembak ini diselenggarakan oleh Angkatan Darat Australia hampir setiap tahunnya, dengan mengundang beberapa negara se-Asia Pasifik. Dalam beberapa kompetisi tersebut, diketahui TNI AD selalu menggunakan senapan buatan negeri.


Senapan tersebut adalah pabrikan dari PT Pindad Indonesia. Senjata pabrikan Bandung ini hingga sekarang masih memproduksi senapan-senapan yang digunakan oleh TNI AD. Dari prestasi tersebut, TNI AD sempat menuai pujian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Berikut 5 prestasi TNI AD memakai senapan Pindad.


1. Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) tahun 2009
Dalam AASAM tahun 2009, kontingen TNI AD membawa 15 orang personil yang terbagi atas 10 orang petembak dan 5 orang official. Lomba ini diselenggarakan pada bulan Mei.


Saturday

Presiden SBY Apresiasi TNI Meraih 17 Medali Emas Lomba AASAM 2013

AFB - Presiden Susilo Yudhoyono memberikan selamat dan menyatakan kebanggaan nya terhadap anggota Kontingen TNI AD yang memenangi perlombaan menembak Australian Army Skills at Arms Meeting (AASAM) dengan meraih 17 medali emas.

"Setelah sukses raih emas Olimpiade Fisika, Indonesia kembali menunjukan prestasi di kalangan militer 17 negara Asia Pasifik & Eropa," hal ini diungkapkan Yudhoyono dalam akun twitter-nya yang diunggah Sabtu.
"Kontingen TNI AD dengan gemilang menang lomba tembak AASAM di Australia, raih 17 medali emas. Selamat. Saya Bangga," kata dia, dalam kicauan berikutnya.

Presiden selanjutnya mengatakan Indonesia bangga, prajurit TNI dengan senjata buatan PT Pindad sering memenangkan perlombaan menembak melawan tentara negara lainnya.

Presiden kemudian memberikan pesan agar terus berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik.
"Mau jadi juara dalam pertandingan? siapkan diri baik-baik & berlatih-lah dengan keras. Tidak ada jalan yang lunak," kata Yudhoyono.

Antara

Sosok Idjon Djanbi " Bapak Kopassus " TNI AD


AFB - Penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta beredar notes di facebook, email maupun pesan berantai. Seseorang mengaku bernama 'Idjon Djanbi' memaparkan analis soal penembakan lapas yang mengakibatkan empat orang tahanan tewas.

'Idjon Djanbi' menepis pelaku penyerangan anggota Kopassus. Dia malah menuding serangan itu dilakukan oleh polisi. Sejumlah foto diposting untuk memperkuat argumennya.

Tak jelas siapa 'Idjon Djanbi' penulis notes itu. Apakah Kopassus, intel TNI, polisi atau sekadar penggembira saja. Sejatinya, nama Idjon Djanbi adalah pendiri, pelatih pertama sekaligus komandan pertama korps pasukan elite TNI AD yang kini bernama Kopassus.

Mantan anak buah Idjon Djanbi yang pernah dilatihnya mengenang sosok Idjon sebagai perwira lapangan yang disiplin. Sosoknya langsing dan gesit.

"Pak Idjon suka cek kalau kita jaga malam. Dia sergap dari belakang dengan pisau. Kita berkelahi dulu, baru dia bilang stop, ini komandan kamu. Tujuannya mungkin biar kita siaga," kata Boyoh, mantan anggota angkatan pertama korps baret merah ini saat berbincang dengan merdeka.com.

Idjon Djanbi awalnya bernama Rokus Bernandus Visser. Warga negara Belanda ini tinggal di London karena tak bisa pulang ke negerinya. Saat itu pecah perang dunia II, Belanda dikuasai Jerman.

Visser muda bergabung dengan tentara Belanda yang mengungsi ke Inggris. Dia sempat menjadi sopir Ratu Wilhelmina. Tapi rupanya Visser lebih tertarik menjadi pasukan tempur, dia ikut bergabung dalam operasi Market Garden yang dilakukan sekutu untuk merebut Belanda tahun 1944. Setelah itu Visser ikut melakukan operasi amphibi bersama pasukan sekutu.

Karena prestasinya, Visser naik pangkat jadi letnan. Pemerintah Belanda mengirimnya ke Indonesia ketika Jepang kalah dan Belanda ingin berkuasa kembali. Visser menjadi komandan sekolah terjun payung Belanda di Indonesia dengan pangkat kapten.

Setelah perang usai, Visser yang sejak awal bersimpati pada Indonesia memilih pensiun sebagai serdadu. Dia menikah dengan seorang wanita Sunda, kemudian masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Mohammad Idjon Djanbi.

Sekitar tahun 1952, Komandan Teritorium Siliwangi Kolonel Alex Evert Kawilarang bercita-cita mendirikan sebuah pasukan elite untuk menumpas DI/TII. Saat itu pasukan reguler sulit bergerak lincah di hutan Jawa Barat yang masih sangat lebat.

Kawilarang pun memanggil Idjon Djanbi dan memaparkan rencananya, sekaligus meminta Idjon menjadi pelatih. Idjon menerima tawaran itu.

"Ternyata dia terima ajakan kami. Dan kemudian kami atur, sehingga dia bisa mendapat pangkat mayor. Selang beberapa waktu, setelah dia bergaul dengan anggota-anggota kita, dia kelihatan merasa betah," ujar Kawilarang dalam biografi Untuk Sang Merah Putih yang ditulis Ramadhan KH.

Idjon dibantu Kapten Marzuki Sulaiman mempersiapkan kesatuan baru yang lahir dengan fasilitas apa adanya ini. Dulu mereka menumpang di sebuah kantor kecil, sebelum akhirnya dapat asrama di Batujajar.

Idjon Djanbi menyusun kurikulum berdasarkan pengalamannya selama menjadi pasukan elite dan bertempur di Perang Dunia II. Latihan pasukan yang diberi nama Kesatuan Komando TT III Siliwangi ini sangat berat. Dari 400 calon siswa komando, kurang dari setengah yang dinyatakan lulus.

Kepada mereka yang lulus, diberikan baret dan brevet komando. Ketika itu baret warna hitam dicelup dalam air teh beberapa lama sehingga warnanya luntur menjadi coklat kemerahan. Itulah cikal bakal Korps Baret Merah.

"Tahun 1953 kompi komando ini diikutsertakan dalam operasi-operasi menghancurkan DI/TII di daerah Jawa Barat. Hasilnya sangat memuaskan, terutama pada penyergapan konsentrasi gerombolan di Gunung Rakutak," kata Kawilarang.

Idjon menjabat komandan tahun 1952-1956, setelah itu dia pensiun dan digantikan wakilnya Mayor RE Djailani.

Pembenahan terus menerus dilakukan hingga akhirnya Kesko III Siliwangi ini berubah nama menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD), lalu Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), Pusat Pasukan Khusus AD (Puspassus AD), Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Hingga akhirnya sejak tanggal 26 Desember 1986, nama Kopassandha berubah menjadi Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.

5 Kemampuan tempur istimewa Idjon Djanbi.

1. Terjun tempur Kemampuan terjun tempur Idjon Djanbi tak diragukan lagi. Tahun 1944 dia ikut operasi Market Garden bersama pasukan Sekutu. Tujuan operasi ini untuk merebut Belanda dan menusuk Jerman dari belakang.

Idjon Djanbi mendarat di sekitar Grave, Belanda. Sialnya di situlah konsentrasi pasukan Jerman bertahan. Di tengah gempuran Jerman dia harus mempertahankan diri sekaligus bergabung dengan pasukan lain.

Karena kemampuan terjun ini pula kemudian Belanda mengangkat Idjon Djanbi sebagai komandan sekolah terjun payung (School Tot Opleiding Van Parachutisten) di Holandia, dan Bandung. Tapi Idjon lebih memihak pada Indonesia.

Istilah untuk serangan lewat udara ini disebut airborne. Sedangkan personelnya disebut paratrooper atau pasukan terjun.

2. Serangan kilat lewat laut Sesuai dengan doktrin pasukan elite yang bertempur lewat udara, darat dan laut, begitu juga dengan Idjon Djanbi. Dia pernah melakukan serangan lewat laut atau seaborne.

Di Eropa, Idjon mengikuti pasukan sekutu melakukan serangan di pantai Walcheren Belanda. Dia ikut mendobrak pasukan Jerman di pesisir.

Serangan lewat laut bisa secara terbuka dan massal, atau bisa juga lewat operasi senyap. Para prajurit diturunkan dari kapal perang lalu menyusup dengan perahu karet.

Saat melatih pasukan komando Indonesia, Idjon mengajarkan materi ini di Cilacap, jawa Tengah. Hingga kini Kopassus TNI AD masih melestarikan tradisi ini.

3. Underwater Demolition Team Underwater Demolition Team (UDT) atau kemampuan demolisi bawah air. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh pasukan katak alias frogmen. Tugas utama di pasukan ini di perang dunia II adalah menjinakkan ranjau laut yang mengancam kapal perang.

Tugas lain yang tak kalah sulit adalah mengamankan pendaratan pasukan. Sebelum pasukan seaborne dimuntahkan dari laut, para pasukan UDT ini mengamankan pantai dari ranjau. Seringkali juga pantai dipasangi kawat berduri yang mengancam pasukan pendarat.

Idjon Djanbi yang kala itu berpangkat sersan mengamankan sejumlah pendaratan amfibi di Pasifik.

4. Komando Pasukan komando dikenal sebagai pasukan elite. Kemampuannya empat kali pasukan reguler. Mereka punya kemampuan menembak yang baik, gerilya maupun antigerilya, demolisi, hingga intelijen. Beberapa sumber menyebutkan Idjon Djanbi dilatih pasukan komando Inggris saat perang dunia ke II.

Inggris kala itu memang menjadi yang terdepan soal pelatihan pasukan elite komando. Dalam setiap pertempuran pasukan ini menjadi yang terdepan. Pasukan komando juga meninggalkan sistem perang konvensional yang mengandalkan jumlah banyak dan sporadis. Yang penting adalah kemampuan, bukan jumlah personel.

Pelatihan pasukan elite berkualifikasi komando ini juga sangat berat. Kelak ketika Idjon Djanbi melatih pasukan Indonesia, dari 400 orang, hanya setengah yang berhasil lulus.

Kepada mereka yang lulus, diberikan baret dan brevet komando. Ketika itu baret warna hitam dicelup dalam air teh beberapa lama sehingga warnanya luntur menjadi coklat kemerahan. Itulah cikal bakal Korps Baret Merah Kopassus.

5. Tangan kosong dan pisau "Jika pelurumu habis, maka bertempurlah dengan pisau. Jika pisau sudah tak ada, maka bertarunglah dengan tangan kosong."

Itu doktrin pasukan komando untuk bertarung habis-habisan dalam pertempuran. Karena itu pula seperti yang lain, Idjon Djanbi juga lihai bertarung tangan kosong atau dengan pisau.

"Pak Idjon suka cek kalau kita jaga malam. Dia sergap dari belakang dengan pisau. Kita berkelahi dulu, baru dia bilang stop, ini komandan kamu. Tujuannya mungkin biar kita siaga," kata Boyoh, mantan anggota angkatan pertama korps baret merah ini saat berbincang dengan merdeka.com.

Hingga hari ini, Kopassus masih melatih anggotanya melempar pisau.

Merdeka.

Sunday

PT Dirgantara Indonesia Serahkan 6 Unit HelikopterBell- 412 EP ke TNI AD



Bandung (AB), Industri pertahanan dalam negeri kembali membuktikan telah memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan Alutsista TNI. Hal tersebut dibuktikan dengan diserahterimakannya enam unit Helikopter Angkut tipe Bell-412 EP produksi PT Dirgantara Indonesia (DI) kepada TNI AD.

Proses serah terima ditandai dengan penandatanganan serah terima dan dokumen penyerahan enam unit Helikopter angkut oleh Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso kepada Kementerian Pertahanan dalam hal tersebut diwakili Kabarahanan Kemhan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis, Jum’at (15/3) di Hanggar Rotary Wing KP II PT DI, Bandung. Acara serah terima dihadiri sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan, Mabes TNI dan Mabes TNI AD.

Selanjutnya dari Kemhan diserahterimakan kepada Mabes TNI yang diwakili Aslog Panglima TNI Mayjen TNI H. Hari Krisnowo, kemudian diserahkan kepada TNI AD yang diwakili Aslog Kasad Mayjen TNI P. Prastyanto, S.I.P., S.E., dan terakhir diserahkan kepada Danppuspenerbad Brigadir Jenderal Mochammad Afifudiing selaku pengguna enam unit Helikopter.

Penyerahan enam unit Helikopter Angkut type Bell-412 EP didasarkan pada Kontrak Jual Beli enam unit Helikopter Angkut No. TRAK/145/PLN/III/2012/AD tanggal 6 Maret 2012, antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) dengan sumber dana dari Fasilitas Kredit Ekspor Tahun Anggaran 2009.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang tidak sempat hadir dalam acara tersebut dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kabaranahan Kementerian pertahanan mengatakan, dengan telah diserahkannya enam unit Helikopter Angkut Bell-412 EP dari PT Dirgantara Indonesia kepada TNI AD ini membuktikan bahwa kemampuan industri pertahanan dalam negeri khususnya PT DI ikut berperan memenuhi kebutuhan Alutsista TNI AD.

Pengadaan helikopter ini juga merupakan kepercayaan dari pemerintah terhadap kemampuan PT Dirgantara Indonesia dan merupakan bukti nyata komitmen pemerintah terhadap penggunaan produksi industri pertahanan dalam negeri.

Lebih lanjut Menteri pertahanan mengungkapkan keyakinannya bahwa PT Dirgantara Indonesia akan berupaya secara maksimal dengan komitmen yang tinggi untuk memproduksi kebutuhan Alutsista TNI AD sesuai rencana dan program yang telah ditetapkan. “Ke depan dalam rangka mendukung kemandirian produksi alutsista dalam negeri, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan, tetap concern dan terus melakukan berbagai terobosan, termasuk melakukan penyiapan perangkat lunak peraturan perundang undangan dalam mendukung pengembangan industri dalam negeri dalam rangka meminimalkan ketergantungan pengadaan Alutsista dari luar negeri”, ungkap Menteri pertahanan.

Mengakhiri sambutannya, Menteri pertahanan menyampaikan ucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Direksi dan jajaran PT Dirgantara Indonesia atas penyerahan 6 unit Helikopter Serbu Bell-412 EP kepada TNI AD.

Menteri pertahanan berharap PT Dirgantara Indonesia terus dapat memacu diri meningkatkan profesionalisme, sehingga pada masa yang akan datang PT DI dapat tumbuh menjadi industri kebanggaan bangsa yang mandiri dan mampu bersaing dengan industri pertahanan. Sedangkan kepada TNI AD, Menteri pertahanan menyampaikan ucapkan selamat atas penambahan kekuatan Alutsista dengan berharap agar Alutsista tersebut dapat dioperasikan dan dipelihara dengan baik, sehingga mampu mendukung kegiatan satuan, khususnya kebutuhan operasi secara optimal.

Sementara itu,Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso berharap dengan penyerahan enam Helikopter ini akan membawa pengaruh besar bagi kemampuan TNI, khususnya TNI AD dalam menghadapi tugas tugasnya yang semakin berat.

Lebih lanjut dikatakan sejauh ini PT Dirgantara Indonesia menyadari bahwa kebutuhan Alutsista bagi TNI akan terus meningkat. Hal ini tentu sejalan dengan tantangan yang semakin beragam sehingga upaya antisipasi harus terus dioptimalkan. PT Dirgantara Indonesia, sebagai salah satu penyedia produk Alutsista, tentunya harus terus berupaya untuk dapat memenuhi tuntutan yang diminta.

Menurutnya, TNI AD selama ini merupakan pengguna terbesar helikopter - helikopter produksi PT Dirgantara Indonesia, dan di masa yang akan datang, dan PT Dirgantara Indonesia mengharapkan TNI AD akan tetap mempercayakan dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan Helikopternya pada PT Dirgantara Indonesia.


Helikopter type Bell-412 EP adalah merupakan Helikopter serbaguna yang ditenagai oleh sepasang engine, Pratt & Whitney PT6T-3D, dengan 4 bilah rotor utama dan 2 bilah rotor ekor. Helikopter ini termasuk kelas menengah dan diawaki oleh 2 orang pilot dan ko-pilot serta mampu mengangkut 13 penumpang.



Sumber: DMC